Failed to Get RSS Data
 
 
 

TIRILOLOK News Detail

  Share on Facebook
   
  - TIRILOLOK.COM, 06-08-2014
  APOLONIUS NURAK: FOKUS KAMI MASIH PADA PENINGKATAN KAPASITAS DAN SOSIALISASI
  Kupang, PN – Kepala Kelurahan Liliba tidak ingin bertele-tele dalam mendorong upaya pencegahan dan pemberantasan Penyebaran Virus HIV dan AIDS. Untuk maksud tersebut Pihak kelurahan Liliba membentuk Kelompok Warga Peduli AIDS – WPA dengan SK Lurah nomor 04 tahun 2014 Tentang Kelompok Warga Peduli AIDS Kelurahan Liliba. Ditemui PN pekan silam Ketua Kelompok Warga Peduli AIDS – WPA kelurahan Liliba Apolonius Nurak mengatakan, ia dan seluruh anggota WPA masih belum berbuat banyak karena kelompok tersebut baru dibentuk dan berbadan hukum sebuah Surat Keputusan Lurah setempat pada akhir April 2014. “ Kami masih fokus pada Sosialisasi di seluruh kelurahan karena kelompok ini baru dibentuk”, ungkap Apolonius diamini salah anggota seksi Kesehatan Emiliana Bureni Tobin kepad PN di RSS Liliba (14/6). Lebih jauh Ia merinci, Ada sekitar 10 kegiatan penguatan Kapasitas dan Sosialisasi yang telah dilakukan sejak Desember 2013 lalu yang diawali dengan Sosialisasi HIV dan AIDS ole KPAD Kota Kupang dan Pembentukan WPA di Gereja Karang Teguh Liliba setelah itu 2 Orang anggota WPA mengikuti penguatan Kapasitas Kader WPA Kota Kupang yang dilaksanakan oleh KPAD Kota di Sekretariat PKK Kota Kupang pada 8 Januari 2014. Kegiatan berikutnya yakni WPA Kelurahan liliba menjadi nara sumber pada Pembuatan Daur Ulang Sampah di Kelompok Bunga Karang Tenau. “ Pembuatan Pot Bunga dan Sovenir dari Koran Bekas dan pembuatan Bunga dari Tali raffia dan kantong plastic bekas. Itu diwakili ibu Bureni Tobin anggota Seksi Kesehatan WPA Liliba”, ujarnya. Menurut dai, Bulan Januari diakhiri dengan kegiatan Sosialisasi HIV AIDS bagi ibu-ibu kader Posyandu oleh KPA Kota Kupang dan WPA liliba di rumah Ibu Emiliana Bureni Tobin dan saat itu ada kesepakatan bersama untuk VCT bagi para kader posyandu dan ibu Balita serrta Ibu Hamil pada hari Posyandu. “ Ada 8 Posyandu di Kelurahan Liliba. Pemeriksaan VCT (Voluntary Counseling and Testing) kita sepakati dan berlangsung sesuai rencana pada 17 Februari di Posyandu “ Melati IV “ diselingi dengan kuis berhadiah dari para kader dan KPAD Kota Kupang ”, kata Nurak. Sedangkan Bulan April diisi dengan Kegiatan pertemuan Peningkatan kader terdidik di Aula rumah Jabatan Wakil Walikota diikuti ketua dan Bendahara WPA Liliba pada 25 April dan mengikuti Workshop WPA tingkat Provinsi. “ Selanjutnya Bulan Mei WPA Liliba melakukan sosialisasi HIV dan AIDS serta Pemeriksaan / test HIV Gratis bagi masyarakat di RT 40 RW 11 bertempat di Rumah Agustinus Usboko oleh LSm “ Perjuangan” pada tanggal 6 Mei, namun tidak jadi karena berbagai halangan. Pemilihan Rumah Agustinus Usboko sebagai tempat Sosialisasi mempunyai arti penting karena ada seseorang anak Kost yang dicurigai mengidap Virus HIV dan diminta anak kost lain untuk diusir oleh Pemilik Kost, namun setelah diperiksa ternyata yang bersangkuta sakit TBC. Bukan mengidap Virus HIV”, urai Apolonius dan Nyonya Bureni. Ia menambahkan, Kegiatan lainnya pada bulan Mei yakni Pengurus WPA Liliba mengikuti Pertemuan program Pencegahan melalui transmisi Seksual di Aula Rumah Jabatan Wakil Walikota pada 22 Mei dan ditutupi dengan Kegiatan pelatihan Pemberdayaan Ekonomi bagi unsur perwakilan Komunitas Populasi Kunci yang didampingi oleh KDS Perjuangan di Sekretariat LSM dan KDS Perjuangan Jalan Amabi. “ Waktu itu Ibu Bureni menjadi Nara Sumber selama 3 hari sejak 28-31 Mei. Ditanya apa saja kegiatan yang telah dirancang ke depan untuk tahun 2014 Apolonius menguraikan “ kita ada rencana sosialisasi ke ibu-ibu kelompok arisan KUB Maria Ratu Damai stasi Yesus Maria Yosep-YMY di Rumah bapak Sety RT 15 RW 15 pada tanggal 10 Juni ada 20-an orang ibu anggota arisan dan dua hari berikutnya mengikuti Pertemuan koordinasi Pencegahan HIV AIDS tingkat Kota Kupang di aula Rumah Jabatan Wakil Walikota”. Menurut dia, pada saat awal pengenalan Virus HIV dan AIDS banyak orang apatis, namun setelah dihadirkan langsung para pengidap HIV sebagai nara sumber seorang guru dan dosen langsung meminta kesediaan para ODHA (orang Dengan HIV dan AIDS-red) yang tampil dengan badan yang sehat untuk memberikan sosialisasi bagi mahasiswa dan siswa di lembaga tempat mereka bekerja. “ Dua ibu itu langsung minta untuk sosialisasi di kampus dan sekolah”, ujar Nurak. Nyonya Emilyana Bureni Tobin yang diminta Komentarnya tentang tingginya angka kasus HIV bagi Ibu Rumah Tangga (17 %) mengatakan, hal itu sangat disayangkan jika yang membawa virus adalah suaminya, namun tidak tertutup kemungkinan satu dua orang juga aktiv “mencari” virus itu. “ Sekarang ini kan selingkuh makin Semarak - SMS ya. Banyak orang tidak takut Tuhan. ”, Ujar Bureni setengah berkhotbah. Menurut dia, dalam setiap sosialisasi kita selalu dorong agar para ibu waspada. “ ini bagi yang setia menunggu suami di rumah ya. Kita selalu dalam suasana kelakar meminta mereka untuk titipkan bapak kondom kalo bapak mau ke Jakarta. Jangan terlalu percaya dengan suami, harus ada kekhawatiran. Paling kurang 25 % kita harus kawatir 75 % kita percaya”, kata bureni mengingatkan. Lebih jauh ia mengatakan saat ini ada banyak praktek sunat tradisional yang bisa mengakibatkan seseorang terinveksi Virus HIV. “ Habis sunat kan sifon. Na ini yang berbahaya kalo sembarang dengan orang yang mereka belum tau bebas virus (HIV) atau tidak. Saya minta Pemerintah melakukan pendataan untuk diberikan pembinaan atau bila perlu ditutup saja praktek tidak aman seperti itu”, pungkas bureni Tobin. (Into).
   
 
Sound:
footer2.jpg