Failed to Get RSS Data
 
 
 

TIRILOLOK News Detail

  Share on Facebook
   
  - TIRILOLOK.COM, 08-08-2014
  ANTARA PELAYANAN DAN SARANA PENDUKUNG HARUS SINERGIS
  Kupang, PN – Human Imunodeficiency Virus – HIV harus diperangi jika Pemerintah ingin membebaskan generasi muda bangsa dari penyakit yang menyerang system kekebalan tubuh itu.

Sesuai catatan dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah – KPAD Kota Kupang angka kasus HIV di Kota Kupang angka kasus HIV pada awal April menunjukkan 589 dengan rincian, Usia 0 – 5 18 kasus, usia 6- 10 tahun 1 kasus, Usia 11-15 2 kasus, Usia 16 – 20 29 kasus, Usia 21-25 102 kasus, Usia 26 – 30 165 kasus, Usia 31-35 117 kasus, Usia 36-40 53 kasus, Usia 41-45 33 kasus, Usia 46-50 19 kasus, Usia 51-55 18 kasus, Usia 56 tahun ke atas 12 kasus. Jika dilihat dari angka ini populasi pengidap HIV terbesar ada pada usia produkstif yakni 21 – 35 tahun yang mencapai 384 kasus.

“ Kita (VCT Sobat RSUD Johanes Kupang) bersama VCT (Voluntary Conseling Taste) yang ada di Kota Kupang selalu bersama-sama melakukan pemeriksaan sampel darah keliling (mobile) bagi masyarakat Kota Kupang yang membutuhkan pelayanan. Kita datangi Kelompok Warga Peduli AIDS – WPA yang sudah menyiapkan masyarakat. Bukan Kendala tetapi kita perlu antisipasi jangan sampai kita kekurangan jarum suntik, sehingga kita minta Pihak yang mengundang kita untuk menyiapkan jarum ”, ujar Mel Adu salah satu staf pada VCT ‘ Sobat “ milik RSUD johanes Kupang pekan lalu.

Menurut dia, antara Pelayanan dan Sarana Pendukung harus ada sinergisitas sehingga semua program berjalan baik. “ Dua-duanya saling terkait satu sama lain”, ungkapnya.

Mengenai Kelopok Warga Peduli AIDS – WPA yang telah terbentuk di 10 keurahan Mel Adu berkomentar, dari 10 kelurahan baru 2 Kelurahan yang aktiv. “ Kita bersyukur warga sudah mulai sadar terhadap pentingnya mengetahui HIV tetapi baru dua Kelurahan salalh satunya Kelurahan Fatululi yang lainnya masih fokus pada sosialisasi. Yang di Fatululi itu dia sudah sosialsasi baru kita masuk jadi masyarakat datang tidak ada tawar-menawar malah mereka jemput anak-anak muda dari rumah untuk ambil sampel darah. Berarti masyarakat sudah mengeti”, tambahnya.

Membangun kesadaran orang terhadap sesuatu hal butuh Waktu lama. “ Dulu saat-saat awal VCT SObat hadir pada 2005 orang tidak peduli dengan Klinik VCT sekarang orang dengan sadar datang sendiri. Bangun kesadaran itu Butuh waktu dan energy, bukan butuh waktu dan apatis. Dan ini buah dari kerjasama LSM, Pemerintah melalui KPAD dan Media”, katanya.

Menurut dia, angka kasus HIV di Kota Kupang yang sudah mencapai 589 pada awal April merupakan sebuah keberhasilan. “ Kalo kita tidak menemukan kasus berarti gagal. Kita lihat kasus itu angka HIV berapa, AIDS berapa kalo rendah berarti berhasil. Kita usahakan dari AIDS dia kembali ke HIV sehingga tidak menimbulkan kematian”, tambah dia.

Seiring pertambahan kasus di Kota Kupang seharusnya RSUD SK Lerik Kota Kupang memiliki VCT sendiri. “ Tetapi kenapa belum saya juga tidak tau. Mungkin karena VCT yang ada di RSUD Johanes, Bhayangkara, RST dan YTB berada di Kota Kupang jadi mereka begitu. Tenaga Konselor sudah kita latih tapi operasionalnya kembali ke Kota ya namanya unit layanan musti ada VCT”, ungkapnya.

Pada akhir perbincangan dengan peduli News Mel menjelaskan tentang bagaimana penggunaan dan pelepasan Kondom yang benar. “ Setelah pake (kondom) cara lepasnya tidak asal copot tetapi menggunakan tisu atau mencuci terlebih dahulu kondom tersebut dengan air dan sabun baru dilepas sehingga cairan yang mengandung Virus tidak melengket di tangan karena bisa saja virus itu pindah”, ingatnya.

Ia berharap, masyarakat dengan sadar datang ke Klinik VCT yang ada untuk memeriksakan diri jika sering melakukan hal-hal ayng beresiko terinveksi HIV. (Into)
   
 
Sound:
footer2.jpg