Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 21-12-2009 | 00:02:10
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘NAMAMU ADALAH MISIMU’
Lukas 1:57-66, Rabu, 23 Desember 2009

Berbicara tentang nama, mungkin anda teringat akan nama-nama tertentu yang mengusik ketenteraman kesendirian anda, walaupun pembicaraan ini tidak bermaksud membongkar kenangan anda. Kita punya nama, kalaupun tidak, kita masih bersama manusia. Nama punya peranan penting dalam kebersamaan untuk membedakan saya dari kamu atau untuk menjadikan saya tertentu di antara anda dan mereka yang lain. Untuk segelintir orang, nama adalah sesuatu yang biasa tetapi untuk orang-orang tertentu, nama adalah segalanya, berarti dan punya nilai. Nama tertentu bisa mendatangkan kegembiraan tetapi bisa juga memunculkan ketakutan; ia bisa menjadi sumber ketenangan, nama yang sama dapat membuat orang gelisah selagi duduk. Seperti cinta; nama bisa membuat orang tergila-gila, tetapi nama tertentu bila disebut punya daya magis yang menyembuhkan; yang gila bisa kembali normal karena nama-nama tertentu. Dengan menyebut nama, orang bisa mengingat semua peristiwa tetapi dengan menyebut peristiwa mungkin saja nama-nama akan terlupakan. Sebutlah satu nama, lihatlah reaksi yang mende-ngarnya, anda akan taku, ternyata nama memang punya daya magis.

Adventus yang kita jalani tengah berakhir dalam hitungan jam. Bila dihubungan dengan nama, adventus merupakan kesempatan untuk bertanya diri dan mengevaluasi kehadiran kita di antara yang lain sebagai orang-orang yang bernama kristen. Ketika dibaptis, kita diberi nama para santo atau santa. Apakah hidup kita telah mendekati hidup para santo dan santa yang namanya kita kenakan? Ataukah cuma nama kita adalah nama para santo dan santa tetapi hidup kita justeru bertentangan dengan nama yang kita kenakan? Mengenakan nama para santo dan santa bukan jaminan kita sebaik nama yang kita kenakan. Untuk itu kita mesti berjuang. Di sini nama bukan sekedar lebel sebuah produk tetapi satu tugas yang mesti kita emban. Kita harus berusaha hidup sesuai dengan nama yang kita kenakan. Dan adventus menjadi kesempatan emas untuk merumuskan kembali pola hidup kita agar hidup kita dapat jadi duta yang baik bagi nama yang kita kenakan. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini kita dipertemukan dengan Yohanes, tokoh penting dalam perjanjian baru yang merintis kedatangan Juru Selamat. Bertemu dengan Yohanes, kita diingatkan akan panggilan setiap orang kristen; menjadi pewarta dan pembawa sesama kepada Kristus. Bila Yohanes adalah suara yang berseru-seru di padang gurun, luruskan jalan bagi Tuhan, mes-tinya kitalah suara jaman ini yang harus menyerukan pertobatan di antara ge-dung-gedung pencakar langit dan daerah-daerah kumuh. Tetapi keseharian kita menunjukkan bahwa peran Yohanes belum menyata dalam hidup kita. Kita belum mampu membawa sesama datang dan mengenal siapa Yesus itu bahkan sebaliknya kehadiran kita justeru mengaburkan gambaran mereka tentang Yesus. Berhubungan dengan nama, ada perdebatan di antara Zakarias dan keluarganya yang menekankan bahwa nama mesti menjadi representasi keluarga. Bagi Zakarias yang penting adalah pesan malaekat kepadanya. Keluarga berorientasi pada hubungan darah tetapi bagi Zakarias nama berorientasi universal melampaui batas hubungan darah. Yohanes; Allah yang berbelas kasih adalah nama yang mengan-dung misi. Apa yang dilakukannya telah membuktikan semuanya ini; Allah meng-hendaki keselamatan umatNya. Yang penting bukan nama tetapi apakah orang da-pat hidup sesuai dengan namanya atau tidak. Konfusius dalam permenungan filosofisnya berujar, ‘Agar keharmonisan sebuah kebersamaan dapat tercipta dan bertahan, tiap orang mesti hidup sesuai dengan namanya. Bila tidak, orang itu mesti disingkirkan dari kebersamaan’. Seandainya pandangan ini diterapkan dalam keseharian kita, siapakha yang masih bertahan dalam kebersamaan ini?

Adventus, menanti Tuhan yang sedang datang, saat-saat berahmat yang mesti diartikan. Seperti Yohanes, kita seharusnya menjadi suara yang mengingat-kan sesama akan panggilannya orang-orang beriman; membawa sesama semakin dekat dengan Yesus. Bila Yohanes telah membuktikan kebenaran bahwa Allah sungguh berbelas kasih terhadap manusia, kini kitalah yang mesti menjadi tanda kehadiran Allah yang berbelas kasih lewat hidup dan karya kita. Bila nama Yo-hanes mengandung misi, nama kitapun demikian; bila bukan untuk orang lain paling kurang untuk diri kita sendiri. Kita mesti hidup sesuai dengan nama yang sedang kita kenakan sehingga dalam dan melalui diri kita kita semakin kecil dan Yesus semakin besar lewat hidup dan karya kita.

"Nama adalah segala tetapi ini hanya mungkin kalau kita mau mengartikannya; hidup sesuai dengan nama yang sedang kita sandang"
[ back ]
footer2.jpg