Yoh 15:9-11,Kamis, 6 Mei 201
“Tinggallah dalam kasihKu”. Kata-kata ini menjadi kunci jawaban atas semua situasi pahit yang telah, sedang dan akan kita alami. Mengapa kepahitan ini menjadi bagian keseharian kita? Jawabannya jelas; karena hati yang mestinya menjadi ruang tempat di mana kasih bertumbuh telah dipenuhi oleh rasa-rasa lain. Kalaupun kita punya rasa kasih, kasih kita lebih banyak memisahkan ketimbang mempersatukan, lebih banyak mempertajam perbadaan ketimbang membuka mata kita untuk melihat kekayaan yang ada di balik setiap perbedaan. Kasih yang kita bagikan demi diri kita sendiri bukan demi orang yang katanya kita kasihi. Seandainya rasa kasih yang mengabdi dan melihat kekayaan di balik setiap perbedaan telah menjadi jiwa setiap langkah laku kita ceritera hidup ini akan jadi lain. Karena kasih model ini dengan sentuhan kelembutannya bisa meluluhkan kebekuan sebuah hati. Di sini, sesama tidak akan ditemui sebagai musuh yang harus ditaklukkan melainkan sebagai sahabat yang mesti didekati. Teriakan perang tak akan terdengar, api permusuhan tidak akan disulut, pertengkaran yang menghabiskan energi tak akan terjadi, iri dan dendam yang merusak manusia dari dalam tak akan mewabah. “Tinggallah dalam kasihKu”; perintah ini merubah pengandaian kita menjadi keharusan karena situasi hidup kita sudah tidak dapat ditolerir. Kehidupan ini semakin tak akrab karena kasih telah kehilangan tempat di hati dan hidup kita; rasa kasih telah diganti dengan rasa-rasa lain yang menghancurkan manusia dan hatinya; keterikatannya dengan sesamanya.
“
“Pengaruh rasa kasih yang mengalir di pantai kehadiran kita dan mempertemukan kita dengan kita membuat perpisahan begitu bermakna dan keha-diran masing-masing kita begitu bernilai. Pernahkah anda berada dalam arena perpisahan? Di saat itu ada rasa aneh yang menyesakkan; ada pula kekosongan yang menggelisahkan. Ketika detik-detik perpisahan mendekati garis batas; Yesus menyampaikan pesanNya kepada para murid-Nya; satu pesanan yang menjadi kunci pintu bagi manusia menuju rumah kebahagiaan. Yesus tahu bahwa mereka yang mengikuti Dia adalah pribadi-pribadi yang unik dengan motivasi yang unik pula. Keunikan dan keanekaan bisa jadi mosiak sebuah keindahan, bisa juga menjadi biang perpecahan, permusuhan, ketidaksetiaan dan pemicu rusaknya kebersamaan mereka. Bagi Yesus hanya satu tali tak kelihatan yang mampu mengikatkokohkan kebersamaan mereka dan mampu merangkai warna keunikan mereka menjadi guratan pelangi yang menarik di kaki langit kehidupan yakni tali kasih. Hal ini diangkat Yesus karena Dia melihat bahwa keanekaan motivasi bisa menjadi awal perpecahan, pengkhianatan dan ketidaksetiaan. Orang gampang mencari untung sendiri, memanipulasi kepentingan kebersamaan demi keuntungan diri. Di samping itu Ia sadar bahwa dalam kebersamaan orang mudah tenggelam dalam massa sehingga bila ada tantangan orang dengan mudah menyerah demi keselamtan diri. Karena itu Ia meminta para muridNya, kita untuk tinggal dalam kasih, membiarkan model kasih merasuki dan menguasai seluruh ruang hati kita dan menjiwai setiap langkah laku kita. Tinggal dalam kasihNya menjadi bukti bahwa kita sendiri masih punya hati, sebagai satu bentuk kesaksian bahwa kita adalah muridNya, satu kekhasan kelompok yang mesti ditampakkan dan jalan untuk menghindari aneka soal yang tidak perlu. Yesus menyampaikan hal ini ini karena ada kemungkinan bahkan kita sedang menghidupi rasa kasih yang bertentangan dengan model kasihNya. Kalau Dia mengasihi kita demi diri kita sendiri, kita mengasihi demi kepentingan kita bukan demi orang yang kita kasihi, kasih kita masih bermata. Kasih model Yesus menghormati keunikan dan menyatukan perbedaan. Perbedaan dan keunikan dilihat sebagai kekayaan yang mesti dihormati. Kasih kita justeru membuat keunikan menjadi keanehan dan melihat perbedaan sebagai sesuatu yang mesti dilenyapkan.
“
“Anda dan saya, kita punya hati tetapi apakah kita punya kasih hal ini masih harus diteliti. Karena tidak semua kita yang punya hati, memiliki kasih dan tidak semua kita yang punya kasih, kehadirannya mempersatukan segala perbedaan. Mengapa? Semuanya ini bergantung dari kasih model mana yang sedang kita miliki. Karena itu perintah untuk tinggal dalam kasihNya adalah perintah untuk setiap kita yang mesti dijadikan jiwa setiap langkah laku kita dalam kebersamaan sekaligus sebagai awasan buat setiap kita bahwa anda dan saya, kita punya potensi untuk berkhianat, punya kecenderungan untuk menyangkal sesama karna begitu sering kasih kita diberi mata. Hanya dengan meningkatkan kadar kasih kita dalam hati dan terhadap sesama, Yesus dapat diam dalam diri kita sehingga di mana kita ada di sana bukan lagi kita yang hidup tetapi Yesuslah yang hidup dalam diri kita.
“
“Hati anda tercipta untuk mencintai, karena itu biar rasa kasih hadir untuk memberi kehadiran anda di antara yang lain dengan warna yang khas”.