Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 20-05-2010 | 01:58:04
By : Erminold.Manehat, SVD
Theme : “HIDUP ANDA PUNYA PESAN”
Yoh 17:20-26,Kamis, 20 Mei 2010

Disadari atau tidak, dilihat jelas ataupun tidak napak langkah yang kita pahatkan selalu meninggalkan jejak, sosok diri kita punya bayangan, getar suara kita memberi alarm suasana batin, jarak antara kita melahirkan tafsiran dan kehadiran kita punya kesan dan pesan. Sebagaimana masing-masing orang punya jejak sendiri, demikian juga kehadiran kita akan menimbulkan beragam kesan dan pesan bergantung dari cara kita meng-hadirkan dan menempatkan diri kita dalam satu kebersamaan. Mungkin karena kita tidak menyadari hal ini, maka sering kita terkejut bila orang mengatakan sesuatu tentang diri kita atau kita baru sadar ataupun disadarkan bahwa kita memiliki sifat dan sikap seperti apa yang dikatakan orang. Dengan ini sebenarnya dan seharusnya kita tahu bahwa ketika kita menyampaikan satu berita baru kepada orang lain, kita juga mesti menyadari bahwa pada saat itu bukan saja informasi itu yang tersampaikan tetapi juga kita menginformasikan siapa kita kepada mereka. Dari cara kita menyampaikan hal ini, orang dapat memperoleh gambaran tentang siapa kita sebenarnya. Gambaran kenyataan ini sebenarnya menyadarkan kita untuk selalu bersikap awas baik dalam berkata maupun dalam bersi-kap. Karena kata dan sikap kita bisa mendatangkan atau melahirkan salah tafsir, orang dapat memperoleh ataupun memberikan gambaran, kesan yang salah tentang diri kita; kita bisa saja tidak seperti yang kita tampilkan. Di sisi lain, kita juga mesti berhati-hati dalam menilai; tidak boleh cepat menilai karena bisa saja kita salah menilai buku hanya dari sampulnya. Di sini yang terpenting adalah kita menyadari bahwa kehadiran dan apa saja yang kita lakukan selalu menimbulkan kesan dan memberikan pesan. Kita harus berusaha agar kesan yang muncul dan pesan yang diberikan adalah kesan dan pesan yang baik.

Perpisahan akan pahit dirasakan bila kebersamaan kita begitu dinikmati. Hal yang sama terjadi pada Yesus dan para muridNya; kedua kelompok ini punya rasa yang sama, tidak ingin terpisahkan. Tetapi perpisahan harus terjadi supaya pertumbuhan menuju kedewasaan dimungkinkan dan rasa bergantung perlahan-lahan dikikis lalu kemandirian bisa mulai dibangun. Pada momen yang mengiris kalbu, dalam nada yang begitu senti-mentil, Yesus melalui doanya mengungkapkan harapan dan kecemasanNya tentang nasib para muridNya. Dalam doanya Dia berharap; perbedaan yang ada tidak menjadi alasan konflik yang dapat menceraiberaikan mereka tetapi sebaliknya mendorong mereka untuk melihatnya sebagai kekayaan yang perlu dilestarikan di mana mereka bisa saling mem-perkaya dan melengkapi dan dengan demikian rasa untuk selalu ada bersama ditum-buhkembangkan. Perbedaan mesti mendorong mereka untuk bersatu menciptakan pelangi kehidupan yang dapat dijadikan sebagai bukti bahwa mereka adalah muridNya. Hidup dan apa yang mereka lakukan menjadi saksi hidup kemuridan mereka. Selain itu, keretan di antara para murid bisa juga menggugah orang-orang yang menyaksikan hidup mereka untuk menjadi pengikutNya. Karena itu Ia juga mendoakan mereka yang percaya kepadaNya karena pewartaan para muridNya. Di mana saja kita hadir di sana hidup kita mesti merupakan pewartaan nilai-nilai kekristenan yang kita anuti. Apa memang demikian? Hidup kita belum membawa pesan keselamatan karena kehadiran kita lebih banyak mengaburkan nilai-nilai kekristenan yang kita wariskan ketimbang memperjelas apa yang mereka tahu tentang Allah yang kita imani. Allah yang kita imani belum dipermuliakan lewat hidup dan pelayanan kita karena kita lebih banyak membangun kemuliaan diri, membangun kerajaan kita di atas penderitaan sesama. Ia menghendaki agar hidup kita menampakkan persatuan antara kita dengan Dia dan Allah yang kita imani. Tetapi kese-harian kita menunjukkan bahwa hidup kita belum mencerminkan apa yang kita imani sehingga mereka sendiri tak dapat menata hidupnya di hadapan cermin yang retak. Kita mengenal Allah tetapi hidup kita jauh lebih buruk dari mereka yang tidak mengenal dan tahu tentang Dia. Apakah ceritera kita akan berakhir di sini? Buku yang sedang kita tulis belum berakhir, kita masih punya peluang merevisi alur ceritera yang kita buat. Tetapi apakah kita bersedia untuk itu?

Anda dan saya adalah pengikut Yesus. Kita mengenal Dia tetapi tidak semua kita memahami kecemasan dan harapanNya. Dunia yang telah banyak menderita membutuh-kan kesaksian kita; kekerasan dunia ini membutuhkan kelembutan sentuhan kasih kita tetapi hati kita pun tengah membeku, kita belum mampu merasakan apa yang sedang dirasakannya. Banyak orang ingin mengenal Allah yang kita kenal tetapi kita tidak memperkenalkan Dia karena kita takut kehadiran Allah akan menghalangi perwujudan ketamakan dan kerakusan kita. Hanya perlu diingat, apapun yang kita buat tidak akan mampu mengikis tanda pengenal yang telah kita kenal. Panggilan ini akan terus bergaung, mengetuk pintu hati kita...Kita harus merubah dunia mulai dengan merubah pola hidup kita. Karena itu kita mesti ingat kehadiran dan apa saja yang kita lakukan akan melahirkan kesan dan pesan tersendiri.

“Hati-hati dengan sikap dan laku anda karena darinya orang dapat mengenal siapa anda”
[ back ]
footer2.jpg