BERITA TERKINI
Gerbang Tol Cikampek Ditutup
Presiden Berikan Uang Duka Kepada Keluarga Joni Malela
Korsel dan Korut Akan Perluas Hubungan Perdagangan
Warga Ziarah Kuburan Massal Korban Tsunami
Jenazah Korban Antre Silaturahim Istana Masih di RSCM
Istana Telusuri Penyebab Kematian Warga yang Terinjak
Sinar Pemindah Materi Temuan Ilmuwan Australia
Wapres Boediono Silaturahmi ke Megawati
Napi Bekas Pejabat Terima Lagi Remisi
Tuna Netra Meninggal Saat Berdesakan di Depan Istana
"Rusia Masuk NATO? Tak Masuk Akal"
Presiden Afghanistan Ajak Taliban Berunding
Goa Lawah Dipenuhi Masyarakat Berpakaian Adat Bali
Gunungan "Grebeg" Syawal Jadi Rebutan
Kenaikan Harga Elpiji 3 Kg Belum Diputuskan
Bersandal Jepit pun Diterima "Open House" Wapres
"Pekhabatin", Tradisi yang Mulai Hilang
`Ngabekten` Keraton Diikuti Bupati dan Wali Kota
WNI di Pakistan Belum Lebaran
TNI Nyatakan Tak Akan Ada Lagi Pelanggaran Seperti Adjie
 
 
Post at : 21-07-2010 | 21:47:10
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘JANGAN KUATIR’
Mateus 13:10-17,Kamis, 22 Juli 2010

Perubahan yang drastis dalam dunia dewasa ini tidak saja berdampak positif tetapi juga menciptakan manusia-manusia frustrasi yang merasa diri tidak berguna. Aneka soal yang ditimbulkan perubahan membuat kita enggan untuk berlangkah maju dan bersikap pesimis. Hal ini diperparah oleh kecenderungan kita untuk selalu membanding-bandingkan diri kita dengan yang lain dan hasil perbandingan itu membuat kita frustrasi; kita begitu banyak kekurangan, kita tidak memiliki apa yang dimiliki oleh sesama. Mestinya hasil perbandingan itu mendorong kita untuk bisa belajar dari sesama bagaimana bisa mencapai taraf hidup yang kita inginkan, membuat hidup kita menjadi jauh lebih baik atau membantu sesama menjadi baik dan dapat berbuat baik. Selain itu, perbandingan ini mestinya menjadi alasan untuk selalu bersyukur karena kita memiliki apa yang mungkin tidak dimiliki sesama atau kita mengalami apa yang sama sekali tidak pernah dialami oleh sesama. Itu berarti kita mesti memaksimalkan apa yang ada pada kita. Kita tidak boleh mengukur hidup dengan memakai takaran kuantitas, berapa banyak yang kita miliki tetapi melihat hidup dari segi kualitas. Sikap inilah yang menjadi sumber lahirnya; penipuan, pungutan liar, ketidakadilan, korupsi dan aneka tindak kriminal lainnya. Lebih dari itu perbandingan harus menyadarkan kita bahwa setiap kita punya kelebihan dan kekurangan; kelebihan tidak boleh membuat kita sombong dan kekurangan tidak boleh membuat kita merasa rendah diri tetapi dengan rendah hati kita bersedia belajar dari orang lain.

Saya tidak tahu bagaimana anda menempatkan diri anda dalam kebersamaan dan apa perasaan anda saat menemukan kenyataan bahwa ternyata kenyataan hidup anda jauh berbeda dari mereka yang mengitari anda. Berhadapan dengan kenyataan seperti ini hanya ada dua sikap yang dominan; minder atau sebaliknya bangga dan meremehkan orang lain. Mestinya kita sadar bahwa perbandingan yang kita buat harus lebih mendorong kita untuk belajar dari orang lain bukan sebaliknya merasa rendah diri dan mengisolasikan diri dari kebersamaan. Seperti kepada para murid Yesus mengingatkan kita bahwa dalam banyak hal ini harus bersyukur dengan kenyataan diri kita sendiri. Mengapa perbandingan mesti melemahkan semangat juang kita? Pertama-tama perbandingan itu memaparkan kepada kita kenyataan bahwa setiap kita memiliki kelebihan dan kekurangan; apa yang ada pada sesama tidak kita miliki dan apa yang kita miliki tidak ada pada mereka. Kenyataan ini mestinya tidak membuat kita frustrasi karena kita berada pada posisi yang seimbang. Tetapi yang ditemukan dalam hidup; kita justeru membuang banyak waktu mempersoalkan apa yang kurang pada diri kita ketimbang berbangga karena apa yang kita miliki. Di sini sikap para murid merupakan cerminan sikap kita sendiri. Para murid mengeluh akan sulitnya memahami apa yang dikatakan Yesus lalu lupa bahwa dalam banyak hal mereka mendapat keistimewaan. Bagi Yesus, ketidaksanggupan mereka untuk memahami perkataanNya tidak perlu dijadikan soal; yang perlu dijadikan masalah adalah apa yang mereka pahami tidak mereka hidupi. Para murid mestinya berbangga bahwa apa yang mereka alami jauh lebih berharga dari pada apa yang tidak mereka pahami. Banyak orang ingin bersama Yesus tetapi hanya mereka-lah yang diberi kesempatan. Tidak sedikit orang ingin melihat apa yang diperbuat Yesus tetapi hanya merekalah yang dapat menyaksikan peristiwa perba-nyak roti dan perubahan air jadi anggur. Seperti mereka, iman kita menempatkan kita pada posisi istimewa. Kita diberi karunia untuk bisa membaca yang tidak apa yang tidak ditulis di balik huruf-huruf yang dipahatkan, mendengar yang tidak diperdengarkan di balik kata-kata yang terucap dan melihat yang tidak diperlihatkan di balik hal-hal yang direkam bola mata kita. Semuanya ini mestinya membuat kita lebih banyak bersyukur ketimbang mengeluh. Tetapi kenyataannya kita lebih banyak menghitung banyaknya daun yang gugur ketimbang memperhatikan kuncup-kuncup kehidupan yang mulai tumbuh pada ranting kehidupan kita yang kosong.

Tahukah anda bahwa anda orang istimewa dalam hidup ini? Kita memiliki apa yang tidak dimiliki sesama, mengalami apa yang tidak dialami sesama dan masih banyak hal lagi yang mestinya mendorong kita untuk mengakui bahwa kitalah orang-orang istimewa dalam hidup ini. Hanya saja, yang kita lakukan justeru sebaliknya kekurangan kita membuat kita patah arang, putus asa. Perbandingan yang kita lakukan harusnya menjadi pendorong bagi kita untuk saling melengkapi bukan untuk dijadikan alasan konflik. Kita diberi karunia untuk merasakan keha-diran kasih Allah yang mempersatukan tetapi karena kita berkonsentrasi pada apa yang tidak kita miliki, kita mengabaikan segala hal positif yang ada dalam diri kita. Ingat kalau kita hanya melihat kekurangan yang kita miliki, hidup ini akan sangat mencemaskan tetapi bila kita lebih memperhatikan segala yang ada pada kita, kita akan selalu bersikap optimis tahu tahu bersyukur. Karena itu sadarlah bahwa KAMU SUNGGUH ISTIMEWA.

“Bersyukurlah bahwa anda mengalami banyak hal baik dalam hidup ini yang tidak bias dialami oleh mereka yang lain”.
[ back ]