Mateus 13:18-23,Jumat, 23 Juli 2010
Ada banyak kecenderungan dalam diri kita dalam berela dengan dunia yang mengitari kita. Salah satu dari kecenderungan itu adalah kesukaan kita untuk lebih melihat hal-hal di luar diri kita sebagai sebab dari kegagalan yang kita alami; ada kesalahan kita langsung melihat kepada orang lain dan mempersalahkan mereka ketimbangan melihat ke dalam diri dan bertanya jangan sampai kita sendiri menjadi penyebabnya. Hal yang sama kita lakukan saat kita bertemu dengan panen yang gagal. Kenyataan ini lalu membuat kita mulai menafsir dan mencari alasan di luar diri dan bertanya mengapa demikian. Kita mempersalahkan hujan yang datangnya sudah tidak lagi beraturan seperti musim-musim masa kecil kita, demikian juga pertukaran musim turut dipersalahkan. Lebih dari itu kita melihat bahwa baik buruknya panen tidak saja bergantung dari unggul tidaknya benih yang ditaburkan tetapi juga bergantung dari jenis tanah tempat benih itu ditaburkan. Benar bahwa benih dan tanah walaupun keduanya berbeda tetapi tidak harus dipisahan karena dalam perbedaan itu keduanya saling menentukan dan pada relasi keduanya hidup kita diberi jiwa. Unggulnya benih tidak akan bernilai bila tanah tempat ia ditaburkan bukanlah tempat ideal yang diperuntukan baginya. Sebaliknya baik tidaknya tanah tidak akan banyak berpengaruh bila benih yang ditaburkan bukanlah benih pilihan. Melimpah tidaknya panenan ter-nyata bergantung pada jenis benih yang ditaburkan dan jenis tanah tempat tumbuhnya. Dan jangan lupa musim turut menentukan segalanya. Kenyataan ini membuat kita lupa akan peran kita sendiri, teratur tidaknya perubahan musim ditentukan juga oleh ulah kita. Kita lupa bahwa apa yang kita lakukan dalam hidup ini menentukan cuaca hidup kita sendiri.
Dari benih dan tanah kita masuk ke soal hati. Tanah dan hati adalah dua hal yang berbeda tetapi dalam fungsi tanah dan hati memiliki fungsi yang hampir serupa. Bila tanah menjadi arena tumbuhnya benih yang memberi buah dan yang mandul, hati menjadi tempat tumbuh kebaikan dan kejahatan, cinta dan kebencian, kelembutan dan kekerasan, kerendahan hati dan keangguhan dan masih banyak lagi pasangan ekstrim yang bertolak belakang. Bila ada begitu banyak jenis tanah yang kita jumpai; berbatu, bersemak duri dan yang subur; gambaran yang sama dapat kita gunakan untuk melukiskan keadaan sebuah hati. Bila jenis tanah menentukan melimpah tidaknya panenan, demikian jenis hati yang kita miliki menentukan siapa kita dalam ladang kebersamaan. Ketika mnyampaikan perumpamaan tentang penabur, Yesus mengemukan beberapa jenis tanah tempat jatuhnya benih yang ditaburkan; pertama, tanah di pinggir jalan, melambangkan hati seorang petualangan, orang yang tidak menetap, hati yang selalu ingin mencoba tanpa mau menentukan sikap yang jelas karena tidak mau diikat. Hati model ini adalah hati yang mudah mengikuti arus dan gampang terbawa arus; suka pamer tanpa penghayatan, lebih banyak berpura-pura ketimbang menampilkan keaslian diri. Kedua, tanah berbatu-batu, hati yang keras; gampang menerima tetapi sulit merubah sikap. Mereka yang memiliki hati model ini adalah mereka yang mempunyai impian tentang hidup baru tetapi enggan meninggalkan hidupnya yang lama, mereka adalah orang-orang beriman tetapi tidak bersedia membiarkan iman mempengaruhi hidupnya sehingga mereka gampang beralih bila ada tantangan. Punya keinginan untuk berubah dan memaksa orang lain untuk berubah sedangkan diri sendiri tidak mau dirubah. Ketiga, tanah bersemak duri, hati yang telah dipenuhi dengan aneka kekuatiran sehingga benih kebaikan sulit mendapat tempat untuk bertumbuh. Mereka lebih melihat apa yang harus dimiliki ketimbang menghargai hidup yang sedang mereka jalani. Dan sikap ini sudah menjadi satu siakp hidup yang tidak dapat dirubah. Duri ya duri. Keempat, tanah yang subur, hati yang baik tempat benih kebaikan yang ditaburkan dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah; iman mempengaruhi hidup mereka dan hidup mereka menjadi duta apa yang mereka imani. Sampai di sini, hati macam manakah yang sedang kita miliki?
Benih yang ditaburkan dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah bila jatuh dan tumbuh di tanah yang baik. Tetapi tidak semua tanah tempat benih dita-burkan adalah tanah yang ideal. Hati yang kita milikipun demikian halnya. Kebaikan, iman yang kita miliki dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah bila hati kita punya tempat baginya. Sebagaimana setiap petani mengharapkan panenan yang melimpah, demikian juga Allah menghendaki iman kita bertumbuh dalam hati kita dan menghasilkan buah-buah kebaikan. Panenan bergantung pada jenis tanah dan kebaikan yang menghasilkan buah bergantung dari jenis hati yang kita miliki. Allah tidak menghendaki panenan yang melimpah, Dia hanya mengharapkan apa yang ditaburkanNya dalam hati kita menghasilkan buah. Hati macam mana yang sedang berdenyut dalam rongga dada kita?
“Hati yang anda miliki menentukan cuaca segala ikatan yang anda bangun”.