Mateus 13:36-43,Selasa, 27 Juli 2010
Dalam hidup yang singkat ini, kita bertemu dengan begitu banyak pertanyaan tentang hidup ini. Ada banyak pertanyaan yang sudah dijawab tetapi tidak sedikit jawaban yang selalu menimbulkan pertanyaan baru. Salah satu dari pertanyaan itu adalah pertanyaan tentang siapa manusia itu. Tahukah anda bahwa manusia punya banyak wajah dan hidup punya aneka ceritera? Manusia adalah makhluk yang senantiasa berenang dalam lautan hidup tetapi tak pernah menjadi laut, yang selalu berusaha untuk mencintai tetapi tak pernah sempurna dalam mencinta, yang selalu ada dalam kebersamaan tetapi tetap asing walaupun tak pernah berniat mengasingkan diri. Kita adalah makhluk yang senantiasa menyebrang untuk menemukan kesejatian kita dalam kebersamaan itudi mana masing-masing kita punya peran yang khas. Dalam kekhasan itu, kita disadarkan bahwa hidup adalah perjuangan mengalahkan kejahatan dalam diri dan peluang untuk berbuat baik. Bergerak antara kabaikan dan kejahatan; kita punya peluang untuk menjadi orang baik, kita juga punya potensi menjadi orang jahat. Karena hidup bersama; kita lalu ditanya, sudah sejauh mana kita terlibat dalam hidup sesama, sudah seerat apa kedekatan kita dengan orang-orang di sekitar kita dan apa pengaruh kehadiran kita terhadap hidup mereka dan sebaliknya? Adakah kehadiran kita berdampak positif bagi mereka ataukah kitalah ilalang dalam ladang hidup mereka yang mesti dikumpulkan dan dibakar?
Kalau tadi dijelaskan bahwa ada banyak pertanyaan yang diarahkan kepada kita tentang sesuatu yang ada di luar diri kita, sekarang ada pertanyaan yang dihubungakan dengan diri kita yang mesti kita jawab, “Pernahkah kita bertanya diri; siapakah kita dalam kebersamaan?” Berhadapan dengan pertanyaan ini kita mesti jujur mengatakan bahwa yang biasa kita tanyakan adalah siapa mereka bagi kita, apa peran mereka dalam kebersamaan; positif atau tidak penga-ruhnya, jarang kita bertanya siapa kita bagi mereka, apa peran kita dan bagaimana pengaruh kehadiran kita terhadap mereka. Sampai di sini kita menemukan kenyataan bahwa karena kecenderungan ini, boleh jadi kita mengenal sesama begitu detail, sangat rinci sedangkan kita minim akan pengetahuan tentang diri kita sendiri, kita sendiri sulit menggambarkan siapa kita sebenarnya. Lalu mengapa dan untuk apa kita perlu mengenal diri kita? Agar kita dapat menempatkan diri secara tepat di hadapan kebersamaan dan tahu apa yang mesti kita lakukan di sana. Sama seperti setiap not dalam tangga lagu punya nada sendiri, masing-masing kita punya peran yang khas dalam kebersamaan. Kalau tiap not menentukan enak tidaknya lagu maka kehadiran setiap kita dan apa yang kita lakukan menentukan warna dari kebersamaan itu. Ini berarti baik buruknya kebersamaan itu ada di tangan kita, kitalah yang menentukan. Kehadiran kita mempengaruhi kebersamaan itu dan mereka yang berada di sana, demikian pula sebaliknya. Interaksi ini bisa berdampak positif, bisa juga berakibat negatif baik bagi diri sendiri maupun bagi kebersamaan. Di sini nilai dan arti kehadiran kita diukur. Karena penasaran dengan makna perumpamaan Ye-sus tentang ilalang di antara gandum,para muridNya meminta agar kepada mereka dijelaskan makna perumpamaan itu. Kepada mereka, Yesus menjelaskan secara detail makna perumpamaan itu; siapa yang berperan sebagai penabur dan siapa gandum dan ilalang. Karena selalu ada dalam kebersamaan dengan peran masing-masing, dari penjelasan itu, kita sendiri dapat bercermin diri dan menemukan siapakah kita dalam kebersamaan; apakah seperti Anak Manusia, kita adalah penabur gandum kebaikan ataukah penebar ilalang kejahatan? Tuan kebun yang meminta para pekerja untuk membiarkan keduanya tumbuh bersama, menunjukkan sikap Tuhan bahwa semua kita selelu diberikan kesempatan yang sama untuk mengartikan kehadiran kita dalam kebersamaan. Tuhan tidak membutuhkan panen yang melimpah, dia hanya mengharapkan bahwa kita mampu mengartikan hidup kita dengan menghasilkan buah di mana kehadiran kita berdampak positif bagi mereka yang ada di sekitar kita. Mungkinkah kita adalah benih harapan dan kehidupan ataukah kita adalah ilalang perusak kebersamaan yang lebih banyak hadir untuk memandulkan kehidupan?
Ladang adalah tempat tumbuh benih yang baik dan rumput-rumput liar. Kebersamaan adalah tempat hidup orang-orang baik dan orang-orang jahat. Siapakah kita di ladang dunia ini; penabur benih kebaikan ataukah pembawa petaka dalam hidup? Apakah kita adalah gandum ataukah rerumputan yang mesti dikumpulkan dan dibakar? Seperti gandum dan ilalang dibiarkan tumbuh bersama, orang baik dan orang jahat dibiarkan ada bersama dengan harapan kebaikan orang baik dimatangkan oleh kehidupan mereka yang jahat dan kebaikan mereka dapat merubah langkah si jahat menjadi baik. Kita diminta untuk memberi arti bagi kehadiran kita; pertama-tama dengan mengatasi kejahatan dalam diri kita dan sesudah itu kejahatan sesama. Ingat kita punya kesempatan menjadi orang baik, kita juga punya potensi jadi orang jahat, penabur kebaikan atau sumber soal yang mesti disingkirkan. Sebagaimana setiap petani mengharapkan panenan yang melimpah, Tuhanpun menghendaki kita menjadi sumber kebaikan dan kehidupan bagi sesama.
“Tuhan tidak menuntut kita member panenan yang melimpah, Dia hanya berharap kita dapat menghasilkan buah dan kehadiran kita memberi pengaruh positif bagi yang lain”.