| Post at |
: |
28-07-2010 | 01:59:59 |
| By |
: |
Erminold Manehat, SVD |
| Theme |
: |
‘ANDA PERLU BERKORBAN’ |
|
Mateus 13:44-46,Rabu, 28 Juli 2010
Kalau kita rajin mengikuti berita di radio, televisi dan berbagai media yang ada, kita menemukan kenyataan bahwa hampir setiap hari ada saja korban; korban penipuan, korban perampokan, korban penggusuran, korban kekerasan, korban lalulintas dan masih banyak lagi yang lain. Semua korban ini punya hubungan dengan usaha untuk hidup dan bertahan hidup, perjuangan mewujudkan apa yang kita impikan. Di arena itu, ada yang menempuh jalan yang halal, ada yang menggunakan segala cara yang penting bisa bertahan hidup, ada yang dipaksa dan terpaksa jadi korban dan ada yang rela berkorban. Di atas semuanya itu, kenyataan hidup ini menunjukkan bahwa untuk bertahan hidup, mengubah mimpi kita menjadi kenyataan, mengubah jalan ceritera hidup ini yang pertama-tama harus kita lakukan adalah memupuk kesediaan untuk berjuang. Tanpa perjuangan, apa yang kita impikan tak pernah akan menjadi kenyataan. Perlu diingat hidup ini apapun bentuknya butuh perjuangan bagaimana menyiasati dan meredam segala problematikanya. Selain memupuk dan meningkatkan kesediaan untuk berjuang, kita perlu memiliki semangat berkorban yang tahan uji, tanpa pengorbanan yang tahan uji, kita akan mudah menyerah bila perjuangan kita menemui jalan buntuh. Lalu mengapa banyak impian yang gagal menjadi kenyataan? Kegagalan terjadi karena kita enggan bergerak dan beralih dari mimpi menuju kenyataan atau karena kita kurang serius berjuang dan tidak memiliki kerelaan untuk berkorban, meninggalkan apa yang dituntut sebagai syarat perwujudan impian itu. Perjuangan adalah harga yang harus dibayar untuk mewujudkan sebuah mimpi.
Anda perlu berkorban. Suka kita katakan bahwa untuk mengubah mimpi kita menjadi kenyataan kita mesti berjuang dan punya kerelaan untuk berkorban. Apakah anda rela berkorban? Pertanyaan ini adalah satu tantangan yang boleh jadi lahir karena kita cenderung sulit berkorban. Lebih mudah bagi kita untuk mencari dan mendapatkan yang dikorbankan ketimbang kesediaan kita untuk berkorban. Kalaupun kita siap berkorban, itu tidak bebas perhitungan. Satu ketika Yesus mengatakan perumpamaan ini, ‘kerajaan Allah seperti harta/mutiara yang ditemukan orang, lalu ia menjual segala miliknya untuk mendapatkannya. Lewat kisah ini hendak dikatakan bahwa kebahagiaan itu sungguh ada dalam keseharian kita. Tetapi untuk merasakan kehadiran situasi bahagia, kerajaan Allah, kita harus siap untuk berjuang. Sebagaimana para petani menggantung hidupnya dari hasil garapan ladangnya; kitapun dapat mengalami kehadiran kerajaan Allah bila siap memanfaatkan aneka harta terpendam dalam diri kita, semua potensi yang ada pada diri kita harus dimaksimalkan; akal kita yang sehat, otak kita yang cemerlang, cinta kita yang mengabdi, perasaan kita yang peka, hati kita yang tanggap dan indera kita yang tajamnya tak kalah dengan sebuah radar pengintai. Semuanya ini bila dimanfaatkan dengan baik, situasi kerajaan Allah tidak mustahil dapat kita nikmati, kita rasakan kehadirannya. Selain itu, untuk mendapatkan yang berharga kita harus rela kehilangan apa yang kita anggap bernilai dalam hidup kita. Untuk itu dituntut keberanian kita untuk berkorban, kerelaan untuk keluar dari diri sendiri. Kita hanya akan menikmati situasi damai kalau kita mau meninggalkan masa lalu kita yang penuh dengan percekcokan dan perrtengkeran. Penghargaan kita terhadap yang berharga ditunjukkan dengan kesediaan kita menyerahkan segala yang kita miliki demi men-dapatkannya. Bila kerajaan Allah penting dalam hidup kita, ia mesti mendapat tempat yang sentral dalam pencarian dan penjuangan kita. Tetapi hati kita telah sarat dengan aneka hal yang menjauhkan kita impian kita; yang kita cari bukanlah Allah tetapi dewa-dewa kecil ciptaan kita sendiri. Bila ingin masuk kerajaan Allah, kerajaan ini dan segala tuntutannya harus mendapat tempat utama dalam hati, hidup dan perjuangan kita. Apa yang kita lakukan, hidupi, itulah yang akan menentukan tempat kita kelak.
Anda dan saya, kita punya keinginan bila mungkin kita diperkenankan untuk masuk dalam kerajaan Allah, situasi bahagia yang kita rindukan. Tetapi perlu dicatat bahwa kerajaan Allah bukanlah sesuatu yang otomatis diperoleh karena pembaptisan yang kita terima. Pembaptisan bukan jaminan masuk dalam kerajaan Allah. Apa yang kita lakukan, itulah yang akan menentukan di mana tempat kita kelak. Kita memiliki aneka harta terpendam yang perlu dimanfaatkan. Karena itu kita harus berjuang, meninggalkan segala sesuatu demi yang satu ini. Yang berharga harus dihargai secara pantas dan harus menadapatkan tempat utama dalam hidup dan perjuangan kita. Untuk itu dibutuhkan kesetiaan dan kesediaan untuk berkorban. Siapkah anda untuk berkorban?
“Kita hanya mungkin menikmati situasi pulau yang baru kalau kita bersedia meninggalkan pulau masa lalu kita”.
|
|
|
|