BERITA TERKINI
Warga Keputran Pasuruan Lebaran Lebih Awal
Antrean Kendaraan di Ketapang Mencapai Satu Kilometer
Pemudik Masih Padati Jalur Pantura Jatibarang
Arab Saudi, Arab Teluk Rayakan Idul Fitri Jumat
Prancis Usulkan Kenaikan Pajak Layanan Internet
KPAI: Perilaku Pemudik Motor Membahayakan Anak
Gelombang Merak-bakauheni Berpeluang 1,5 Meter
Korban Tewas Selama Arus Mudik 128 Jiwa
"Sumbang Beras" Jadi Game Favorit di Internet
5 Orang Tewas Dalam Serangan di Irak
Presiden Ingatkan Pengusaha Jangan Ganggu Harga Daging
Harga Minyak Naik Ikuti Pasar Saham
Hleb Absen Lawan Liverpool Karena Cedera Kaki
Pemudik Pengguna Sepeda Motor Padati Dermaga
Merak Dilewati 113.050 Pemudik
Idul Fitri 1431 Hari Jumat 10 September
Polisi India Tangkap Tokoh Separatis Kashmir
Pemudik Diminta Waspadai Genangan Air di Pantura
Kericuhan Sempat Warnai Arus Mudik di Ketapang
Operasi Ketupat Jaya Jaring 3.133 Tindak Pelanggaran
 
 
Post at : 28-07-2010 | 02:03:50
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘‘TUNJUKAN SIKAP YANG JELAS’’
Mateus 13:47-52,Kamis, 29 Juli 2010

Satu hari baru lagi anda masuki, udara cerah dan suasana mungkin jauh lebih baik dari kemarin. Tetapi siapa sangka bila di awal hari yang bagus ini anda sedang berhadapan dengan sesuatu yang serius dan anda dituntut untuk menentukan sikap. Situasi ini seolah menempatkan anda di persimpangan jalan, arah mana yang mesti anda pilih; anda tidak mungkin tetap berdiri di persimpangan itu karena perjalanan hidup anda harus dilanjutkan. Dan pada pilihan arah ini nasib anda bergantung; karena arah yang tepat menentukan situasi apa yang akan anda hadapi. Kenyataan membawa kita kepada pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa dihadapkan pada aneka pilihan dan makhluk yang tercipta dengan kebebasan menentukan sikap. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa kebebasan menentukan sikap ini tidak bebas konsekuensi. Apapun yang ditentukannya selalu akan diikuti dengan satu konsekuensi yang tidak boleh tidak mesti diterimanya. Sebab pada saat ia memutuskan untuk menentukan sikapnya di saat itu pula relasinya dengan dunia sekitarnyapun turut berubah. Yang terjadi dalam keseharian kita justeru membingungkan dan terkadang menimbulkan soal. Kita lebih memusatkan perhatian kita pada kebebasan kita tanpa melihat apa konsekuensi dari setiap tindakan kita. Kita memutuskan untuk mengambil sikap tertentu tetapi kita tidak bersedia menerima konsekuensi dari tindakan kita; kita menolak berubahnya relasi kita dengan dunia di luar diri kita. Lebih parah lagi sikap kita kadang tidak jelas, sulit diberi warna yang pasti. Ternyata, kebebasan kita kadang tidak membebaskan.

Disadari ataupun tidak, sudah beberapa hari ini kita berbicara tentang kerajaan Allah, suasana bahagia yang dipaparkan dalam aneka perumpamaan. Mengapa? Boleh jadi lewat berbagai perumpamaan yang berhubungan dengan hal-hal yang kita kenal, penulis kisah ini hendak mengajak kita untuk membiasakan diri, mengajar orang lain mulai dengan apa yang mereka tahu, apa yang mereka kenal. Mereka dibantu untuk mengenal hal baru lewat apa yang sudah lama mereka akrabi. Selain itu, perumpamaan-perumpamaan ini hendak menggambarkan betapa kayanya makna kerajaan Allah, suasana bahagia itu sehinggga ia dapat ditampilkan dalam aneka wajah dan beragam kisah. Lebih dari itu, perumpamaan-perumpamaan itu juga mau menjelaskan bahwa situasi kerajaan Allah, kebahagiaan dan tuntutannya tidak dapat digambarkan secara pas dalam kata-kata selain dengan perbandingan-perbandingan. Karena itu, yang diharapkan dari kita adalah kejelian kita untuk menangkap makna dari pewartaan tentang kerajaan, suasana yang satu ini dan kepekaan kita untuk merasakan kehadirannya da-lam keseharian kita. Kerajaan Allah, kebahagiaan dapat hadir dalam suasana yang tidak kita duga. Dia dapat hadir dalam hal-hal biasa tetapi bisa juga dalam hal-hal yang berada di luar dugaan kita; pengalaman harian kita, perjumpaan kita dengan sesama. Kali ini, kerajaan Allah, kebahagiaan digambarkan dengan pukat yang dilabuhkan di laut di mana ada begitu banyak ikan yang ditangkap. Walaupun demikian tidak semua ikan yang ditangkap lolos dalam seleksi. Ada yang mesti dibuang. Pukat adalah baptisan yang kita terima, undangan untuk menghadiri perjamuan Putera Manusia dan peran kita dalam keseharian kita. Baptisan yang kita terima bukanlah jaminan otomatis untuk masuk dalam kerajaan Allah, undangan itu bukan tiket me-nuju ke sana, posisi kita bukan penentu. Baptisa, undangan dan posisi/peran kita hanya merupakan jalan bahwa kita mau menuju ke sana melalui jalur tertentu dengan aturan yang tertentu pula yang mesti diikuti. Karena berhadapan dengan baptisan, undangan dan peran kita, kita memiliki kebebasan untuk menentukan sikap. Semua kita telah dibaptis dalam nama Allah Tritunggal tetapi tidak semua kita hidup sesuai dengan nama Allah Tritunggal itu. Karena baptisan kita beriman kepada Allah yang sama tetapi dalam hidup, kita bebas entah kita ber-sedia membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kita dan hidup kita menjadi duta iman kita atau tidak. Hidup dan apa yang kita lakukan, itulah yang akan memberi nilai kepada baptisan dan undangan yang kita terima. Hidup dan apa yang kita lakukanlah yang menentukan apakah kita layak menikmati suasana kerajaan Allah atau tidak.

Kerajaan Allah adalah pukat yang dilabuhkan dan undangan keselamatan yang disebarkan. Kita bebas menerima ataupun menolaknya. Patut dicatat setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Menerimanya berarti bersedia memenuhi segala tuntutannya, menolaknya berarti dengan tahu dan mau kehilangan tempat yang telah disediakan. Kerajaan Allah bukanlah sesuatu yang otomatis diperoleh karena pembaptisan yang diterima. Pembaptisan bukan jaminan masuk dalam kerajaan Allah. Apa yang kita lakukan, yang kita hidupi, itulah yang akan me-nentukan di mana tempat kita kelak. Karena itu kita harus berjuang mengalahkan diri sendiri, mengendalikan kebebasan kita agar kebebasan kita tidak menghilangkan, membiarkan undangan keselamatan itu berlalu tanpa diartikan. Hanya kesetiaan kita untuk membiarkan iman kita mempengaruhi hidup kitalah yang akan menentukan tempat kita kelak. Semoga kita bukanlah ikan-ikan yang terbuang.

“Hidup dan apa yang kita lakukan, menentukan siapa kita dalam kebersamaan dan di mana semestinya tempat kita-dikumpulkan atau dibuang”.
[ back ]