Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Failed to Get RSS Data
Post at : 28-12-2010 | 22:27:39
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : “KITALAH SAKSI”
Yoh 20:1-8,Senin, 27 Desember 2010

Ada banyak peristiwa terjadi di sekitar kita yang kebetulan ataupun penuh rencana kita hadir sebagai saksinya. Kalau kita menjadi saksinya, kita dituntut untuk bisa berbicara apa adanya. Berbicara tentang kesaksian berarti berbicara tentang kata, laku dan hidup kita yang dapat dijadikan bukti, data, penjelasan dan keterangan untuk memperkuat satu fakta. Ia sengaja dihadirkan untuk meyakinkan, memperkuat dan membenarkan fakta yang dengannya kita diperha-dapkan. Kalau ada kesaksian, ada juga apa yang kita namakan saksi. Ada macam-macam saksi; ada saksi bisu; kenyataan yang berbicara lewat kehadirannya, ada saksi mata, tertuju kepada mereka yang langsung menyaksikan berlangsungnya satu peristiwa, ada saksi hidup, orang-orang yang turut mengalami satu perjalanan sejarah dan masih hidup sehingga darinya bisa diakses aneka keterangan tentang satu peristiwa dan ada pula saksi palsu; mereka yang memberikan keterangan palsu untuk mengelabui orang lain dan memenangkan diri sendiri. Dari aneka wajah kesaksian ini, kita dapat melihat wajah kita dalam keseharian kita. Di satu sisi kita dapat menyimpulkan bahwa dari satu peristiwa bisa muncul aneka saksi. Di sisi lain kita dapat melihat bahwa hidup ibarat satu pentas pengadilan di mana di atas pentas itu masing-masing kita diberi kebebasan untuk bersaksi. Apa bentuk kesaksian kita, semua ini bergantung dari motivasi yang melatasbelakangi kehadiran kita di atas pentas hidup tersebut. Apapun yang kita lakonkan, itulah bentuk kesaksian yang kita berikan kepada dunia. Di sana di atas pentas itu berdasarkan peran yang kita mainkan, orang dapat menilai model kesaksian mana yang sedang kita berikan. Berhubungan dengan peristiwa natal, kita adalah saksi dari semuanya ini, kitalah yang merayakannya dan kitalah yang mesti memberikan kesaksian tentang pengaruh perayaan ini dalam hidup kita, dalam membangun relasi kita dengan yang lain. Pengaruh perayaan mesti menyata bukan hanya dalam kata-kata kita tetapi lebih dalam hidup kita. Inilah satu bentuk kesaksian yang hidup.

Seperti kidung-kidungnya yang mulai kehilangan daya magisnya, natalpun perlahan-lahan mulai berlalu dari kesibukan kita. Kita mulai kembali kepada rutinitas kita, tugas-tugas harian kita. Seperti sebuah drama, perayaan natal adalah babak yang telah kita lewati. Disadari ataupun tidak, kita sedang memulai satu babak baru, babak di mana pesan-pesan natal entah yang disi-ratkan dalam kotbah atau dihadirkan dalam lagu, kartu, ucapan selamat, sms, lampu-lampu hias, kandang-kandang natal, jabatan tangan dan saling kunjung mulai diwujudnyatakan dalam tindakan nyata, relasi kita dengan dunia. Hidup kitalah yang mesti menjadi bukti berpengaruh ti-daknya semua hal yang berhubungan dengan perayaan ini. Apakah semuanya ini kita lakukan sekedar mengarus ataukah karena kita mau membiarkan semuanya berpengaruh dalam hidup kita? Di saat kita membiarkan semuanya ini mempengaruhi hidup kita, hari ini kita dipertemukan dengan Yohanes orang yang dikasihi Yesus, penulis kisah tentang hidup dan karya Yesus. Pestanya diadakan Gereja bukan tanpa alasan. Yohanes ditampilkan supaya pada dirinya kita dapat bercermin bagaimana menjadi saksi perayaan natal. Yohanes menulis injilnya berdasarkan pengalaman adanya dia bersama Yesus. Boleh dibilang ia adalah saksi mata dari seluruh hidup dan karya Yesus; apa yang dialami, dilihat, dirasakannya itulah yang ditulisnya. Seperti Yohanes ki-tapun diminta untuk melakukan hal yang sama; bukan dengan menulis injil-injil baru tetapi dengan menghidupi dan memberikan kesaksian tentang semua yang kita saksikan, kita alami, pengaruh perayaan natal dalam hidup kita. Kita tidak perlu menulis injil-injil baru cukup dengan membiarkan hidup dan kehadiran kita di antara yang lain bernilai injili, punya pesan tentang satu kelahiran baru, tentang sebuah perubahan kisah hidup kita. Kalau apa yang ditulis Yohanes adalah berita gembira, kabar kesukaan, kehadiran, hidup dan karya kita mesti membawa kegembiraan bagi sesame atau kita kita sendiri menjadi satu berita gembira bagi mereka. Kalau apa yang ditulis Yohanes berkisah tentang banyak mukjizat yang dikerjakan Yesus, di mana kita hadir, di sana mereka yang mengitari kita mesti menyaksikan mukjizat-mukjizat kecil terjadi pada diri dan hidup mereka. Kalau Yohanes berbicara tentang kehadaran Yesus yang menghidupkan, di mana kita hadir di sana api juang sesame mesti kembali dikobarkan. Kitalah yang merayakan natal, kitalah yang mesti menunjukkan pengaruh perayaan ini dalam hidup kita. Merayakan pesta Natal tanpa menunjukkan adanya perubahan dalam hidup dan relasi kita dengan dunia berarti perayaan ini tidak punya pengaruh, perayaan ini tidak jauh dari sebuah sandiwara. Perayaan ini mesti membawa perubahan dan perubahan ini mesti disaksikan. Kalau Yohanes menunjukkan bahwa kehadiran Yesus mengubah hidup mereka yang bertemu dengan Dia, kehadiran kita mesti membantu sesama merubah jalan ceritera hidupnya menjadi jauh lebih baik. Kepercayaan kita akan kehadiran dan kelahiran Yesus mesti membawa warna lain bagi langit keseharian kita. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang membutuhkan kesaksian kita, merekapun ingin mengalami adanya perubahan dalam hidup mereka, kitalah yang mesti merasa terpanggil untuk menjawabi kenyataan ini. Untuk itu, kita tidak perlu banyak berkotbah, biarkan hidup kita yang telah berubah meyakinkan mereka bahwa perubahan selalu mungkin bila kita mau, rela mengorbankan hidup kita yang lama, membiarkan Yesus yang lahir menguasai seluruh hidup dan laku kita. Dengan cara ini, kita mengartikan natal yang kita rayakan.

Ke manapun kita pergi dan apapun yang kita lakukan, kita adalah saksi-saksi hidup di mana dari diri kita sesama dapat belajar bagaimana seharusnya hidup sebagai orang-orang beriman. Anda dan saya, seperti Yohanes, kita sedang berada pada dua kutub yang berseberangan; menjasi saksi kelahiran Yesus atau menjadi pelakon-pelakon drama kelahiran Yesus, orang-orang yang unya keahlian merekayasa perayaan sekedar pamer atau karena takut kehilangan muka. Natal sedang kita rayakan, kitalah yang menyaksikan kelahiran sang juru damai dank arena itu kitalah yang diutus untuk menghadirkan suasana damai dalam kebersamaan. Di sini kita perlu ingat, selain bersaksi tentang iman kita, kita sebenarnya bersaksi tentang siapa kita. Dari hidup dan kehadiran kita, orang dapat melihat siapa kita sebenarnya dalam kebersamaan. Di sini yang ter-penting bukanlah apa yang kita katakan tetapi apa yang kita hidupi. Karena itu jalani hidup anda apa adanya tanpa harus mengada-ada. Kita tidak hidup dari pandangan orang tetapi kita membutuhkan pandangan mereka untuk hidup, menjadi diri kita sendiri. Anda boleh saja bisu tetapi jangan pernah membisu apalagi menjadi saksi-saksi palsu.

“Hidup dan apa yang kita lakukan harus menjadi injil-injil hidup yang sedang ditulis sekarang dan di sini”.
[ back ]
footer2.jpg