Alkitab Interlinear
ekaristi.org


:  -


Post at : 24-01-2011 | 00:14:07
By : Erminold Manehat, SVD
Theme : ‘HARUS JELAS’
Mrk 3:20-21,Sabtu, 22 Januari 2011

Setiap kita punya keluarga dan masing-masing kita hidup dalam masyarakat tertentu. Dalam keluarga dan masyarakat kita punya tugas dan tanggung jawab yang pada gilirannya akan berd-ampak pada pada keluarga dan masyarakat di mana kita ada dan mengais hidup. Karena bentuk hidup yang satu tidak bisa dipisahkan dari bentuk hidup yang lain maka begitu sering terjadi benturan kepentingan di mana kita lebih mementingkan yang satu dan mengabaikan yang lain. Atau tugas yang satu bisa dimanipulasi demi kepentingan yang lain. Memang benar kita tidak dapat melepaskan diri dari ikatan kekeluargaan dan hubungan darah dan tetapi juga benar bahwa perhatian terhadap keluarga tidak boleh membuat kita mengabaikan apa yang menjadi tanggung jawab kita terhadap masyarakat bahkan kalau boleh kita lebih berusaha mendahulukan kepentingan masyarakat sebelum kita memenuhi apa yang menjadi tanggung jawab kita terha-dap keluarga, hubungan darah. Karena ada asumsi bahwa dengan menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab kita terhadap masyarakat dengan sendirinya kewajiban kita terhadap keluarga terpenuhi. Apapun alasannya, awasan ini tentu berdasar. Benar kita tidak dapat melepaskan diri dari ikatan keluarga. Keluarga adalah asal dan muara setiap pengembaraan kita. Dari sanalah kita membuat langkah awal menjumpai dunia dengan segala bekal yang kita peroleh dari dunia kecil ini. Kenyataan menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan, hubungan darah dapat menjadi kekuatan, pendukung misi yang sedang kita emban, kelompok yang sama bisa juga merupakan penyebab melemahnya semangat pelayanan kita atau ditolaknya kehadiran kita. Keterikatan pada keluarga menempatkan kita pada posisi dilematis dalam pelayanan, melemahkan sikap kenabian kita. Karena itu ikatan ini tidak saja perlu dibangun tetapi juga mesti diwaspadai.

Akhir-akhir ini, tugas dan hubungan darah, keluarga menjadi sorotan dan oleh umum dikenal dengan virus nepotisme. Diakui bahwa kelompok kecil ini, kehadiran dan kiprahnya dalam hidup bermasyarakat punya pengaruh yang tidak sedikit. Di sini ditekankan pendidikan dalam keluarga punya pengaruh yang tidak sedikit bagi kehadiran seorang anak dalam kebersamaan. Dari keluarga bisa lahir dan hadir orang-orang yang dapat diandalkan untuk membuat mimpi banyak orang menjadi kenyataan. Di sisi lain, dominasi dan pengaruh kelompok ini dapat merusak karier seseorang bila kelompok kecil ini menuntut perhatian yang lebih. Kehadiran mereka dapat merubah arah pelayanan dari pelayanan publik kepada pelayanan yang berorientasi pada kepentingan keluarga yang membidani lahirnya KKN, penyakit masyarakat yang lebih sulit dibasmi ke-timbang usaha memberantas busung lapar dan flu burung. Ketika berita tentang situasi Yesus sampai ke telinga keluargaNya, mereka cepat-cepat datang untuk mengambil Dia karena mereka berpikir; Dia tidak waras lagi. Lalu apakah ini satu usaha penyelamatan ataukah satu usaha menutup pintu terhadap dunia luar, satu ekspresi ketakutan yang tersembunyi; terlalu berkecimpung dengan orang banyak akan mengurangi perhatianNya terhadap keluarga? Di sini yang tidak waras bukanlah Yesus melainkan keluargaNya. Bagi Yesus, ada dan berbaur dengan banyak orang adalah tugasNya, bagi keluarga, di kelilingi orang banyak adalah satu ketidakwajaran; keluarga lebih melihat kepentingannya ketimbang kebutuhan orang banyak. Padahal dengan tampil di hadapan banyak orang dan berbuat baik, Yesus justeru mengungkapkan kebaikan keluarga dari mana Dia berasal. Kisah ini mau membuka wawasan keluargaNya dan pandangan kita tentang keluarga di dalam iman. Menerima Yesus sebagai anggota keluarga kita berarti kita mesti bersedia keluar dari ikatan keluarga berdasarkan hu-bungan darah dan menempatkan diri dalam keluarga baru berdasarkan iman. Dalam hal tertentu tuntutan keluarga baru mesti lebih diutamakan ketimbang kepentingan keluarga berdasakan hubungan darah. Sampai di sini harus diakui bahwa walaupun kita beriman akan Dia tetapi orientasi pelayanan kita masih tertuju pada hubungan darah sehingga kita kehilangan orientasi; untuk apa kita ada dalam kebersamaan, sikap profetis kita tidak jalan, kita sulit menegakkan kebenaran berhadapan dengan keluarga padahal kita dibaptis bukan hanya untuk kepentingan keluarga. Hidup dan karya kita belum melampaui ikatan keluarga berdasarkan hubungan darah. Kita baru berada pada level beriman tetapi belum hidup sebagai orang-orang beriman.

Sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari ikatan keluarga berdasarkan hubungan darah. Berdasarkan iman; kita mesti bersedia membuka diri terhadap hadirnya keluarga baru berdasarkan iman. Pelayanan, hidup dan karya kita mesti melampaui batas hubungan darah dan ikatan kekeluargaan. Kita telah dibaptis dalam nama Yesus tetapi kita sendiri masih mengurung diri dalam penjara keluarga dan kepentingannya. Pelayanan kita masih terbatas pada hubungan darah. Karena itu ikatan ini perlu diwaspadai. Ikatan ini dapat menjadi dasar pijak kita untuk menjumpai dunia tetapi juga dapat merintangi kita untuk menerima kehadiran dunia dalam hidup kita. Yesus datang untuk semua orang, kitapun dipanggil untuk membawa perubahan dalam kehidupan bersama. Beriman akan Yesus beralih bersedia bermisi melampai hubungan darah.

“Kita semua punya keluarga dan keluarga adalah segalanya tetapi segalanya bukan hanya untuk keluarga karena keluarga adalah bagian dari masyarakat”.
[ back ]
footer2.jpg